0

Jangan Abaikan! Beginilah Cara Mengetahui Malam Lailatul Qadar

Pada dasarnya Rasulullah Muhammad saw. banyak beribadah Qiyamu Ramadhan
dan menganjurkan mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di
bulan yang pada sepuluh pertamanya adalah rahmat, sepuluh tengahnya
adalah ampunan dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka. Walaupun
hakikatnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya
Lailatul Qadar, kecuali Allah swt.

Hanya saja, Rasulullah saw. mengisyaratkan dalam sabdanya:

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

"Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. " (Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah rah., ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ هذا لفظ البخاري

"Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw.
mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya),
menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan
Muslim)

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah rah. :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ رواه مسلم

"Rasulullah saw. bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan
Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya." (HR.
Muslim)

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah rah. :

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله

"Bahwasanya Nabi saw. senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir
dari Ramadhan, sampai Allah mewafatkan beliau." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)". (HR. Bukhari)

Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari
terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi
bahwa Lailatul Qadar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah
bersabda :

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ
كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

"Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar
pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya,
maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. " (HR. Bukhari
dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ
فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ
الْبَوَاقِي

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang
dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai
terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan. " (HR. Muslim)

Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar :

لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

"(Dia adalah) malam ke-27. " (HR. Abu Dawud).

Sahabat Ubay bin Ka'ab ra. menegaskan:

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut.
Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat
padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Dengan demikian dapat diberi kesimpulan bahwa Lailatul Qadar itu ada
pada sepuluh akhir Ramadhan, terutama pada malam tanggal ganjil.

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:

أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ
وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ
وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً

"Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat)
pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh
(27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak shalat keluarga dan
isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27)."

Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan
lailatul qadar, dan di antara ulama yang tegas mengatakan bahwa ada
kaidah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid
Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abu Hasan as-Syadzili. Bahkan
dinyatakan dalam sebuah tafsir surat al-Qadr, bahwa Abu Hasan semenjak
baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuaikan dengan kaidah
ini.

Menurut Imam Al Ghazali, Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan atau malam pertama bulan Ramadhan :

1. Jika hari pertama jatuh pada malam Ahad atau Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 29 Ramadhan

2. Jika malam pertama jatuh pada malam Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadhan

3. Jika malam pertama jatuh pada malam Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadhan

4. Jika malam pertama jatuh pada malam Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 Ramadhan

5. Jika malam pertama jatuh pada malam Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan.

Kaidah ini tercantum dalam kitab-kitab para ulama termasuk dalam
kitab-kitab fiqih Syafi'iyyah. Rumus ini teruji dari kebiasaan para
tokoh ulama yang telah menemui Lailatul Qadar. Formula ini diceritakan
Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin; juga terdapat dalam kitab Hasyiah
Sulaiman Al Kurdi juz hal 188; kitab Tafsir Shawi; kitab I'anah
at-Thalibin II/257; Syaikh Ibrahim al Bajuri dalam Kitabnya Hasyiah 'Ala
Ibn Qasim Al Ghazi juz I halaman 304; as Sayyid al Bakri dalam Kitabnya
I'anatuth Thalibin Juz II halaman 257-258; juga kitab Mathla`ul Badrain
karangan Syaikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathoni.

Ciri-Ciri Lailatul Qadar

Tidak ada kepastian mengenai kapan datangnya Lailatul Qadar, suatu malam
yang dikisahkan dalam Al-Qur'an "lebih baik dari seribu bulan". Ada
Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, meyebutkan bahwa Nabi pernah ditanya
tentang Lailatul Qadar. Beliau menjawab: "Lailatul Qadar ada pada
setiap bulan Ramadhan." (HR. Abu Dawud).

Namun menurut hadits lainnya yang diriwayatkan Aisyah rah., Nabi Muhammad saw. memerintahkan:

 

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadal itu terjadi pada 17 Ramadhan,
21 Ramadhan, 24 Ramadhan, tanggal ganjil pada 10 akhir Ramadhan dan
lain-lain.

Diantara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang
Lailatul Qadar adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah,
mencari rahmat dan ridha Allah kapan saja dan dimana saja, tanpa harus
terpaku pada satu hari saja.

Jika malam Lailatul Qadar ini diberitahukan tanggal kepastiannya, maka
orang akan beribadah sebanyak-banyaknya hanya pada tanggal tersebut dan
tidak giat lagi beribadah ketika tanggal tersebut sudah lewat.

Umat Islam hanya ditunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Di antara tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar adalah:

1. Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim.

2. Pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikit
pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini
berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad.

Dalam kitab Mu'jam at- Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: "Malam Lailatul Qadar itu langit bersih, udara tidak dingin
atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak
dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas."

Amalan-amalan untuk Mendapatkan Lailatul Qadar

Para ulama kita mengajarkan, agar mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar,
maka hendaknya kita memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan,
diantaranya:

1. Senantiasa shalat fardhu lima waktu berjama'ah.

2. Mendirikan shalat malam atau qiyamul lail (shalat tarawih, tahajud, dll)

3. Membaca Al-Qur'an sebanyak-banyaknya dengan tartil.

4. Memperbanyak dzikir, istighfar dan berdoa.

5. Memperbanyak membaca do'a:

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah,
senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah.

(Sumber:http://ift.tt/1UepbI6)

Jangan Abaikan! Beginilah Cara Mengetahui Malam Lailatul Qadar
Jangan Abaikan! Beginilah Cara Mengetahui Malam Lailatul Qadar

Posting Komentar

 
Top