0

Penyesalan Mendalam Seorang Ayah yang Tak Bisa Hentikan Air Mata, Saat Tahu Isi Surat Anaknya

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Orangtua adalah sosok yang
akan banyak dicontoh oleh anak. Oleh karena itu sebagai orangtua harus dapat
menjadi contoh yang baik sekaligus pengayom bagi anak-anaknya. Utamanya seorang
ibu. Seorang anak selayaknya membutuhkan sosok ibu di dekatnya.

Namun apa yang terjadi jika
sosok ibu tersebut justru sudah terlebih dahulu dipanggil oleh yang kuasa?
Tentu hanya rasa rindu mendalam untuk bertemu dengan sang bunda yang akan ia
rasakan.

Sebuah kisah yang sangat menyentuh, seorang bocah yang
rindu pada almarhumah ibunya, dikutip dari Tribun Solo. Membuat kita terbawa
saat membacanya.

Pagi itu anakku masih tidur.
Aku membuatkannya sarapan nasi goreng sebelum
berangkat kerja.

Ia masih terkantuk-kantuk saat aku memberi
tahunya bahwa sarapan sudah siap.

Berperan sebagai orangtua tunggal membuat aku
lelah.


Sepulang kerja aku langsung baringkan tubuhku di kasur.

Namun betapa kagetnya aku saat ada sebuah
mangkok yang pecah karena aku tiduri di atas kasurku.

Aku begitu marah, sehingga langsung saja aku
ambil rotan dan aku pukul anakku yang sedang asyik bermain.


Setelah selesai, anakku masuk dalam kamar.


Aku menyesal, pipiku mulai dibasahi air mata dan aku pergi menangis di dalam
kamar mandi.

Usai menunaikan Sholat Isya, secara diam-diam
aku mengintip ke kamar anakku.


Dia menangis bukan karena sakit di punggungnya, tapi karena dia melihat foto
almarhum ibu yang dikasihinya.

Kemudian aku menyapukan obat di punggungnya
yang sakit itu lalu memeluk dan membujuknya untuk tidur.

Setahun berlalu setelah kejadian itu, aku
berjanji tidak akan mengulanginya lagi. 


Tapi, ketika dia mulai masuk sekolah taman kanak-kanak, satu insiden buruk
kembali berulang.

Ketika aku di kantor, ibu gurunya menghubungi
aku dan mengatakan bahwa anakku sudah beberapa hari tidak masuk sekolah,
padahal aku mengantarnya setiap pagi.


Hal itu tentu saja membuat aku marah.

Aku sengaja pulang awal untuk mendapat
penjelasan dari anakku.

Tapi sesampainya di rumah, ia ternyata tidak
ada.

Setelah lama mencari, rupa-rupanya dia main
game di warnet.


Perasaan yang tidak terkendali membuat aku memukulinya dengan parah, dia hanya
diam dan mengatakan, " Aku minta maaf ayah".


Beberapa hari setelah itu, anakku pulang ke rumah memberitahu bahwa di
sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.


Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamar untuk berlatih
menulis. Andai saja istriku masih ada, ia pasti bangga melihatnya. Karena aku
pun juga bangga dengannya.


Hanya selang beberapa hari aku mendapat panggilan dari Kantor Pos, bahwa anakku
mengirim puluhan surat tanpa alamat.


Setelah aku mengambilnya, aku mencoba mendapat penjelasan dari anakku.

Ketika itu aku menangis ketika dia mengatakan
surat itu untuk almarhum ibunya.

Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan
mengatakan, " Maafkan aku ayah" .


Aku hanya menghela nafas panjang, mataku tertarik melihat sebuah amplop dengan
tulisan " untuk ibu tersayang".

Aku membuka dan membacanya dengan
perlahan-lahan.

"Ibu, hari ini aku kena marah dari ayah karena menaruh mie instan di
bawah selimutnya.
 

Ketika itu aku sangat
lapar jadi aku ingin memasak nasi, tapi aku ingat pesan ayah, aku dilarang
menggunakan barang-barang berbahaya di rumah.
Oleh sebab itu aku menyiram mie dengan air panas, satu untuk aku dan satu untuk
ayah.Punya ayah aku taruh di bawah selimutnya, takut mienya dingin.
 

Tapi ayah memarahiku
karena aku lupa mengatakan menaruh mie untuk ayah di bawah selimut.

Ibu aku sudah masuk
sekolah, aku sangat merindukanmu.
Hari ini kami membuat pertunjukan bakat dan bu guru mengundang ibu-ibu murid
untuk hadir dalam pertunjukan itu, tapi ibu sudah tidak ada.

Aku tidak ingin
menghadirinya, aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah
akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
 

Untuk menyembunyikan
kesedihan, aku pergi main game di toko komputer, ayah kemudian menemukanku dan
memarahi serta memukulku.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah sangat merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu ia begitu sedih.
 

Aku ingat kami berdua
sangat merindukanmu, tapi aku mulai melupakan wajahmu, bisakah ibu muncul dalam
mimpiku malam ini?"


Sepanjang membaca surat itu, air mataku tak bisa berhenti mengalir.


Aku kemudian mendatangi kamar anakku.


Jelas isak tangisnya terdengar dari luar, aku mendekatinya dan meminta maaf
serta memeluknya dengan penuh kasih sayang. 

Ya Allah, sungguh kisah yang sangat menyayat
hati. Betapa sang anak ini merindukan sosok ibu yang sangat dicintainya.

 


Penyesalan Mendalam Seorang Ayah yang Tak Bisa Hentikan Air Mata, Saat Tahu Isi Surat Anaknya
Penyesalan Mendalam Seorang Ayah yang Tak Bisa Hentikan Air Mata, Saat Tahu Isi Surat Anaknya

Posting Komentar

 
Top