0

Bocor!! Ini Daftar Pejabat yang Terlibat Jaringan Narkoba Terungkap di Tulisan Tangan Freddy Budiman (Selengkapnya)

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Eksekusi terpidana mati
kasus narkoba atas nama Freddy Budiman dan lainnya cukup menghebohkan
Indonesia. Menurut informasi ada banyak sekali yang mendukung dan tidak atas
eksekusi mati ini. Mereka pun memiliki alasan yang tak kalah baik.

Salah satunya adalah Harris Azhar, Koordinator
dari KontraS. Ia menuliskan cerita yang cukup panjang soal pengakuan dari
Freddy Budiman soal salah satu bandar kakap.

Tulisan Harris tersebut berdasarkan pengakuan dari
Freddy yang mengungkapkan fakta baru yang tak banyak diketahui oleh orang lain.

"Cerita Busuk dari seorang Bandit"

Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

Di tengah proses persiapan
eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya
menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan
karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secara komprehensif
menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus
Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak,
dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Di tengah-tengah masa kampanye
Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di
masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari
sebuah organisasi gereja. Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di
Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan
bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa
yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias
John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga
sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada
gelombang kedua (April 2015).

Saya patut berterima kasih pada
Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa
berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak
Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya
beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak
Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping
kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping
tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di
tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk
memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan
sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung
ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman
tersebut.

Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan,
kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah
status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas "kakap" justru harus diawasi
secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian
Freddy Budiman sendiri.

Menurut ibu pelayan rohani yang
mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara
langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang
diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman
bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia
lakukan.
Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:

"Pak Haris, saya bukan orang yang
takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko
kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan
penegak hukumnya.

"Saya bukan bandar, saya adalah
operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di
Indonesia. Dia (bos saya) ada di Cina. Kalau saya ingin
menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu
semuanya nitip (menitip harga)
. Menurut Pak Haris berapa harga
narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?"

Saya menjawab 50.000. Fredi
langsung menjawab:

"Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina. Makanya saya
tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si
pihak tertentu, ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per
butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak. Selalu saya okekan. Kenapa Pak
Haris?"

Fredy menjawab sendiri. "Karena
saya bisa dapat per butir 200.000. Jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000-
30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada
masalah. Saya hanya butuh 10 miliar, barang saya datang. Dari keuntungan
penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi
tertentu."
Fredy melanjutkan ceritanya. "Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di
berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya
ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu
juga dijual bebas. Saya jadi dipertanyakan oleh bos saya (yang di Cina).
'Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau
ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?'"

Menurut Freddy, "Saya tau pak,
setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk,
warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu ditemukan oleh
jaringan saya di lapangan."

Fredi melanjutkan lagi. "Dan
kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu? Dalam hitungan saya,
selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi
uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes
Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si
jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan
sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba.
 Perjalanan
saya aman tanpa gangguan apapun.

"Saya prihatin dengan pejabat
yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan
menceritakan dimana dan siapa bandarnya. Saya bilang, investor saya anak salah
satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA). Saya
siap nunjukin dimana pabriknya. Dan saya pun berangkat dengan petugas BNN
(tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina, sampai ke depan pabriknya.
Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya
mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.

"Saya selalu kooperatif dengan
petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya
saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya
bukan kabur. Ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur,
padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa
mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya
terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu polisi
itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 miliar dari harga yang disepakati 2
miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya
lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya
paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan
memeras saya."

Freddy juga mengekspresikan bahwa
dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang
membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang
melindungi.

"Saya sudah cerita ke lawyer
saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris,
biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas. Saya siap dihukum mati, tapi
saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja
di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana."

Lalu saya pun mencari pledoi
Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website
Mahkamah Agung. Yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut.
Putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy,
yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba
mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya
informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana
dan siapa pengacara Freddy. Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk
mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman
sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.

Haris Azhar (2016).

Bocor!! Ini Daftar Pejabat yang Terlibat Jaringan Narkoba Terungkap di Tulisan Tangan Freddy Budiman (Selengkapnya)
Bocor!! Ini Daftar Pejabat yang Terlibat Jaringan Narkoba Terungkap di Tulisan Tangan Freddy Budiman (Selengkapnya)

Posting Komentar

 
Top