0

Curhat Sedih Yusril: Dicampakkan SBY. Pasrah, Air Susu Dibalas Air Tuba…..!!

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

 Pakar hukum
tata negara, Prof. Yusril Ihza Mahendra, mengaku sudah bertemu dengan Ketua
Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono jelang Pemilihan Gubernur DKI
Jakarta sebelumnya. Bahkan, pertemuan tersebut sering dilakukan.


"Sudah
berkali-kali," jelas Yusril sebagaimana dikutip beritateratas.com pagi ini.


Dalam
setiap perbincangan, bahkan sejak awal, yang dibahas adalah keadaan ekonomi,
sosial dan politik saat ini dan ke depan. Keduanya menilai negara dalam ancaman
hegemoni asing karena itu harus berjuang bersama untuk mengantisipasi dan
sekaligus untuk menegakkan kedaulatan negara.


"Terakhir
beliau mengatakan saya perlu Pak Yusril untuk melawannya," sambung mantan
Menteri Sekretaris Negara ini.


Setelah itu, karena SBY harus pergi keluar negeri, Yusril
diminta untuk membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai politik.
Terutama, PPP, PKB dan PAN. "Beliau ke luar negeri, saya dekati partai
lain," ungkap Yusril.


Meski
pada awalnya ada perbedaan, sambung Yusril, akhirnya tiga partai tersebut
sepakat untuk mengusungnya. Namun, dalam perkembangannya, SBY malah berkata
sebaliknya. 


"Mana yang benar, kita bingung juga jadinya," ucap
Yusril sambil tertawa kecil.


Dalam
keadaan waktu yang sudah mendesak, sementara masih ada perbedaan pendapat di antara
keempat tersebut, SBY mengusulkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai
calon gubernur. Sepengetahuan Yusril, peserta koalisi itu kaget.


"Menjelang
akhir tidak bisa berbuat lagi. Nggak ada pilihan kecuali (PPP, PKB, dan PAN)
menerima," bebernya.


Padahal,
berdasarkan survei terakhir CNN, elektabilitas Yusril sudah mencapai 47 persen
meski belum dapat dukungan resmi dari partai. Jauh di atas Sandiaga S. Uno,
yang sudah didukung Gerindra, apalagi Agus Harimurti. Elektabilitas Yusril
tersebut mestinya sudah bisa menjadi modal melawan petahana.


"Tapi
akhirnya, kan yang terjadi egoisme dan kepentingan perseorangan yang mengedepan
dibanding perjuangan bersama. Ujungnya ada agenda terselubung," kata
Yusril.


Dia juga melihat ada kekuatan lain yang menyeting agar
petahana mendapat lawan lemah. Meski begitu, dia menerima, keputusan SBY dan
koalisinya. "Tidak apa-apa, semua ini mengandung hikmah dan
pelajaran," ucapnya.

Namun, apa yang dialaminya
ini, mengingatkannya terhadap figur yang ia hormati, Mohammad Natsir. Dalam
satu kesempatan, tokoh Masyumi tersebut menyatakan "kita terlalu ikhlas
dalam politik, terlalu percaya dengan orang lain dan merasa orang lain sebaik
kita." Padahal, kenyataanya tidak selalu demikian.


"Air susu dibalas air tuba yang terjadi," jelas
Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini pasrah.


Karena
dalam perjalanan politik sebelumnya, Yusril sudah acapkali mengubur ambisi
pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Pada tahun 1999 misalnya, dia mundur
agar Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI. Padahal dalam
hitungan-hitungan itu, suara Yusril bisa lebih tinggi dibanding Gus Dur.


Begitu
juga pada saat pemilihan calon wakil presiden 2001 untuk mendampingi Megawati
Soekarnoputri setelah Gus Dur lengser. Yusril tak mencalonkan diri untuk
memberi kesempatan kepada Ketua Umum PPP Hamzah Haz. Bahkan tanpa dukungan
Partai Bulan Bintang pada saat Pilpres 2004, SBY tak bisa maju sebagai calon
Presiden.


"Saya memetik hikmah dan sekaligus introspeksi atas
semua yang terjadi," sambungnya.


Meski
begitu, bukan berarti Yusril kecewa berat lalu tak peduli dengan proses maupun
hasil Pilkada DKI 2017 nanti. Dia tetap mengikuti karena tetap konsen dengan
perjuangan bersama. Meski diakuinya, tentu tidak se-full seperti kalau dirinya
yang maju sebagai calon.


"Harapan
yang tersisa sudah terlalu minimal. Kalau sekiranya tokoh melawan petahana dan
kekuatan politik dan ekonomi di belakangnya sebanding, kita akan sepenuh hati.
Karena kita harap perubahan," ucapnya.


Namun
sebelum melakukan langkah berikutnya, dia juga akan mengamati. Apakah calon
yang diusung para lawan Ahok, termasuk Partai Gerindra dan PKS, serius
melakukan perubahan di Jakarta. 


Kalau
menyiapkan calon hanya untuk kalah, apalagi ada transaksi di belakangnya agar
Ahok mudah memenangkan Pilgub, Yusril ogah mendukung.


"Saya
sih ingit melihat. Kalau murni kita akan bantu. Tapi kalau ada hitung-hitungan
politik atau transaksional (di belakangnya), untuk apa (mendukung),"
tandasnya. 


Pada
akhirnya foto ini menjadi fakta, Profesor Yusril gagal Nyagub. Bagaimana
menurut anda?

 


Curhat Sedih Yusril: Dicampakkan SBY. Pasrah, Air Susu Dibalas Air Tuba…..!!
Curhat Sedih Yusril: Dicampakkan SBY. Pasrah, Air Susu Dibalas Air Tuba…..!!

Posting Komentar

 
Top